Halaman

Powered By Blogger

Selasa, 29 Mei 2012

Kucoba Terangkan Semuanya (part 3)

Sore itu setelah mandi aku mengambil telefon selulerku, mencari kontak teman-temanku, mengetik sebuah pesan singkat untuk meminta sedikit do'a untuk nenekku. Aku di rumah sendiri. Orang rumah pergi menjenguknya di Rumah Sakit Umum. Sebenarnya ingin menjenguk beliau, tapi batin ini belum kuat rasanya.
Langit petang menemani gundahku. Awan yang melewati atap rumah seiring berganti dan hujan mengguyur tanpa henti.

Kucoba Terangkan Semuanya (part 2)

“Iya. Aku pulang besok pagi dengan penerbangan paling awal”. Aku benci dengan situasi seperti ini. Rasanya begitu mengekang. Tidak suka melihat raut orang tuaku memuram. Sudah cukup aku yang membuatnya begitu. Sudah sekian lama aku tak bisa membuat mereka menyunggingkan senyum atasku.
Burung hantu mulai bernyanyi di pucuk pohon saat aku terbangun dari tidurku. Tepat jam 1 malam dan hening. Aku keluar kamar menyalakan lampu ruang tengah dan menemukan telepon  seluler Ibuku. Membuka menu dan mencari pesan masuk, 16 pesan sebagian dari ayah dan lainnya dari kakak perempuanku-paling tua dan lebih dewasa.
“Besok aku balik bareng ayah dari Mojokerto”.
Pesan dari ayahku mempermasalahkan tentang penerbangannya ke Jawa. Sepertinya ayah akan pulang lebih sore.

Kucoba Terangkan Semuanya (part 1)

“Emak pun mboten kuat. Menawi rujuk wonten griya sakit mriku pripun?,”
 aku dengar dan coba tahan semuanya. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan:
“Ibu sudah tidak kuat. Jika dirujuk ke rumah sakit disitu bagaimana?”.
Kemudian hening. Aku melihat kebingungan Ibu setelah mengangkat telfon dari saudarinya di desa. Aku tidak bertanya, hanya takut membuatnya semakin jatuh dan coba menunggu apa yang akan terjadi.
Dibalik dinding cat putih yang lapisannya mulai terkelupas, samar-samar kudengar suara ayah,

untuk kakakku, Rahmah Uswatun Khasanah


Tidak mudah lupa dengan putaran waktu yang kita lalui bersama. Aku coba berkata pada semuanya bahwa aku tak apa apa. Sejenak itu hanya karena aku tak ingin terlihat lemah. Aku akan mengatakannya nanti. Ketika waiters kembali membawa nampan lemon tea kita. Baca history yang lalu. Selesai ini kau mengantarku ke gerbang, namun tidak untuk saat ini. Akan kucoba jalani sendiri.

aku coba mengerti dirimu

Kau rasakan itu tanpaku? Baru saja senja kemarin kau kurasa semakin angkuh dan berkata dengan segalanya. Tak terpendam. Mungkin karena kau banyak beban masalah. Dan aku coba mengerti meski kau tak fikirkan aku.

untuk melihatmu bahagia, segalanya akan kulakukan

Haruskah kau menganggapku tak ada walau kau tau aku tak mampu. Mungkinkah kau rasa ini bukan jalan kita. Biarkan saja ini terjadi. Lagi. Biar kau rasa aku sudah tak perlu datang dan mempercayai mu. Lagi. Rasakan saja embun yang mulai musnah karena kau denganku. Mungkin aku tak mampu. Tapi untuk melihatmu bahagia, segalanya akan kulakukan.