Kini kumasuki kerangka sepiku.
Bayangan hayatku di puncak dan memanjang .
Badanku sudah capai bukan kepalang.
Sulit kulihat fatamorgana. Lagi.
Sulit
kujajakkan kakiku dengan raga tegap.
Tak
kulihat rambut legamku lagi.
Tak
kupunya lengan kekar yang kusangga dulu.
Entah kemana buah hati yang kubesarkan itu.
Yang kuperjuangkan makannya dengan peluhku.
Yang kubayar bahagianya dengan do’aku.
Yang tak kuperdulikan lelahku untuk dia.
Mungkin dia tak sudi mempunyai
Bapak sepertiku.
Tak kaya dan serba kurang sempurna.
Namun,
setiap dini hari menyapaku,
Setiap senja berseru,
kupanjatkan do’aku untuknya.
Agar dia selalu dalam lindungan
Tuhan.
Jika nanti aku,
seorang tua yang tak berguna ini bertemu Sang Pencipta
tenanglah, nak.
Akan kutitipkan kau kepada-Nya
Aku akan berbisik kepada-Nya,
Aku mempunyai seorang putra yang gagah dan baik
hatinya
Dia sangat berharga untuk Bapak.
Sekalipun dia tak pernah menganggap Bapak ada.
Aku tak menuntut apapun kepadamu,
nak ..
Tapi tolong maafkan Bapakmu ini.
Jaga dirimu, semoga kau menjadi
seorang sukses
Salam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar