Halaman

Powered By Blogger

Jumat, 15 Juni 2012

Gue Cantik dan Berharga


Margareta POV
gue Margareta. sering dipanggil akrab dengan Marta. gue cantik,baik, dan mempesona kata mama.

Di screen hp gue muncul nama “Radit ;)” ya! Dia pacar gue. Emang gak ganteng, tapi cinta ini tulus. Berawal dari sebuah pertemuan, berlanjut dengan sebuah kebiasaan, dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Ajining tresna jalaran saka kulino. Begitu orang jawa menyebutnya. Gue cepat –cepat bangkit dan meraih ponsel di meja sebelah tempat tidur.
                “Halo..”
                “aku udah di bawah sayang”
                “oh, oke. Wait yaa”. gue tutup telfonnya dan berdiri di depan kaca. Mencari kekurangan dari penampilan gue. I’m not perfect. Just wanna better.
                “Kita mau kemana?,” gue memakai helm KYT putih retro. Persis seperti yang Radit punya.
                “Guess what?,” dia mengerlingkan mata.
                Sepanjang jalan ini gue memandangi kiri jalan. Damai. Hangat. Rizkyan sahabat dekat Radit menemani gue dalam SMS nya.
               
Radit POV
                “Tutup matamu!,” aku menutup matanya dengan kain panjang dan mengikatnya di belakang kepala Marta. Dia kutuntun sampai sebuah meja dan menyuruhnya duduk. Kutepukkan tanganku 3 kali. Rizkyan, Talita, Ananta, dan Dyta menyanyikan Happy Birthday.  Gue mengambil kue blackforest yang udah gue beli di sebuah toko roti bersama Dyta. Gue suka minta pendapat tentang cewe ke Dyta. Ya, karna dia sahabat gue yang rumahnya paling deket. Jadi enak kalo mau ngobrol. K, back to the point.
                Setelah make a wish dan meniup lilin ulang tahunnya, gue berdo’a semoga first cakenya buat gue. Tapi, tanpa berdo’a pun kayaknya Marta bakal ngasihnya ke gue. Dia potong cake nya dengan sumringah. Lega banget liat raut mukanya yang seperti ini. Senyumnya itu lebih berarti dari apapun buat gue. Gue bakal ngelakuin apapun untuk buat dia senyum. Sekalipun harus berkorban.
                “heh! Elo ngelamun aja. Makan yuk!,” Talita menepuk pundak gue.
                “Marta mana?”. Talita tidak menjawab namun telunjuknya mengarah pada sebuah gazebo di atas kolam ikan.
Marta, cewek yang gue sayang tertawa bersama Rizkyan. Sesekali tangannya mengusap krim kue yang ada di pipi Rizkyan. Tanpa basa basi, gue seret baju Old Navy milik Ryzkian sampai sedikit robek dan menghajar pipinya. Dia emang sahabat gue, tapi bukan kayak gini caranya.
“Stop, Radit! Stop sakitin Rizkyan! Dia pacar gue!,” teriak Marta.
“Yakinkan aku kalau yang kamu bicarakan itu tidak salah!,” jawabku sambil merenggangkan kepalan tanganku yang sedari tadi memukul Rizkyan.
“sorry, Radit. But it is true. I do not love you anymore as it used to. Tapi gue gak tega ngomongnya dari dulu. Sorry! Rasanya elo gak pantes deh dapetin gue, dan Rizkyan lebih bisa bikin gue bahagia. Lebih dan lebih dari yang elo punya.”
Dia. Dulu sahabatku, sekarang keparat.
Dia. Dulu saudaraku, sekarang bajingan.
Dia. Dulu hidupku, sekarang berkhianat.
Dia. Dulu semangatku, sekarang….. mungkin kau akan menjalani yang menurutmu baik. Yang hadir tanpa melihat pedihku ini. Kau hancurkan harapanku. Sekalipun kau bilang kau faham, tidak akan membuatku merasa lebih baik. Semoga saja tidak kau rasakan pahit sepertiku. Akan aku coba berjalan tanpa dirimu. Carilah kebahagiaanmu. Aku disini mendo’akanmu. Tiada niat menutup jalan bahagiamu.
               
Aku. Tidak pantas disandingkan denganmu.
            Dengan segala keindahanmu.
            Aku. Tidak pantas bahagia dengamu.
            Dengan segala sempurnamu.
                        Suatu saat ketika kau terluka,
                        Terkikis rasamu dan sakit.
                        Bayangkan aku.
                        Aku seperti itu, sayang.
            Jika kau coba menolehku, akan kuabaikan.
            Aku hanya tak ingin terluka lagi.
            Rasaku telah mati untuk menyadari semuanya.

SECHA dan IRAS dalam LDR


SECHA POV
          Hhhh. Kutarik nafas panjang lalu tersenyum. Siang ini ponselku bergetar beberapa kali. Sepertinya akan berlanjut sampai larut nanti.
                        And the problems are..
            What?
1.        LDR is complicated.
2.       If one of us disappointed, it make hurt
But I believe in you, Iras.
And the other problem is..
?
I’m a naughty teen. I’m drunk.
[saat itu rasanya hampa. Aku menyayangi orang seperti itu. Tapi aku akan coba dampingi dan membuatnya berubah]
Gue yakin sebenernya lo itu baik. Cuma pengaruh lingkungan, dan kalo lo mau berubah, gue bantu J.
            Please, I love you. But let me solve my own.
I just want the best for you. Kurangi minummu.
            I’ll try ya. You wanna be mine?

[rasa ini berdesir lagi. Aneh]
hmm, I’m yours
           
            You wanna be my girlfriend?

I’m your little girlfriend. Please love me just the way I am.

            I’ll do J but please keep this relationship to be a secret.

[playboy selalu melakukan ini. Tetapi aku tak ingin merusak semuanya lebih cepat]
Why? Do you feel shy?
           
No. I always keep my relationship.  
            Malam itu aku tidur lebih dulu. Meninggalkan Iras dengan setumpuk PKN-pekerjaan rumahnya.







IRAS POV
                Harum parfum Bvlgari milik mama yang baru menerobos celah pintu kayu kamarku. Keramaian kota sudah terdengar sampai lantai atas.
            “Iras, cepat mandi sayang!,” teriak mama.
            “iya. Prepare my breakfast, mom”.

            Dibawah guyuran air dan sabun Palmolive aromatherapy, aku mendengar pintu kamarku terbuka. Maybe my mom just wanna check me, I have take a bath or not. Selesai mandi aku ganti seragam sekolah. Menuruni tangga tua ini dan menyapa mama di ruang makan.
            “Morning, mom”. Tapi mama tidak menjawabnya. Matanya tajam menatapku. Sebuah arti pasti tersirat. Aku hanya menunggu mama membicarakan semuanya.
            “Jangan menatapku seperti itu, Ma. Aku tak bisa makan”. Breadtalk dan the hangat ini rasanya biasa setelah melihat mama menatapku seperti itu.
            “Iras, you broke my heart!” aku berhenti mengunyah. Menelan semuanya bersama the hangat dan menjawab perkataan mama.
            “what do you mean?”
            “we have an agreement. Have you forgotten?” aku mulai beropini. Mama memasuki kamarku dan melihat semua pesanku dengan Secha, pacarku. Kuberanikan saja menjawab,
            “I have deal with you, mom. I drunk so I’m not having a relationship. I’m not drunk it’s okay having a relationship”
            “why you drunk and relationship? That’s not our deal!,” matanya makin tajam dan memukul meja dengan keras. Meninggalkan aku dengan mata kosong dan memory yang diputar. Aku menceritakan semuanya pada Secha.
           
            All the decision is yours. Did not you promise me not to drink anymore? I know it’s hard. But ..       
I’ve try but that’s not work.
            So, what’s your decision? Leave me? Drink is more valuable.      
Wait, that’s not true.
            You are an addict honey. I hope you become a better person.  
Are you sure? I’m not addicted with alcohol sweety.
            Do not try to leave me. I already love ya. 
You don’t wanna lose me right? Love me with your heart.
            If I intend to leave you, I will not start all. How you describe our relationship to your mom? Lie?     
Lied.
            But keep trying to not drink honey. I believe in you. You can do it.        
I’ll try ya. Thanks hun.

            Akhirnya aku tau, why our relation must be a secret. Merasa bersalah judge Iras dari awal. Masalah minum itu urusan Iras dengan Tuhannya. Aku hanya mencoba membuat Iras lebih baik. Dan sepanjang ini, aku masih akan berteman dengan LDR, berkencan dengan mozzila firefox and communication.

            Suara sekelompok katak itu menemaniku malam ini. Sepi. Aku mencoba memejamkan mataku dan tidur.
           

1 message received
          “sorry hun, we can’t continue our relationship L. My parent knows all”
[pada akhirnya, semua ini terjadi]
Jahat ngerti !!!
            If you dare, call me and give the reason to my dad
Rasanya nggak nggak tau malu, nggak sopan cewe kayak gitu L tapi ngertilaaahh
            Aku udah jelasin, but they won’t listen.

            Mulai saat ini, aku akan coba berpaling darimu. Melupakan semuanya.