Margareta POV
gue Margareta. sering dipanggil akrab dengan Marta. gue cantik,baik, dan mempesona kata mama.
Di screen hp gue muncul nama “Radit ;)” ya! Dia pacar gue. Emang gak ganteng, tapi cinta ini tulus. Berawal dari sebuah pertemuan, berlanjut dengan sebuah kebiasaan, dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Ajining tresna jalaran saka kulino. Begitu orang jawa menyebutnya. Gue cepat –cepat bangkit dan meraih ponsel di meja sebelah tempat tidur.
“Halo..”
“aku udah di bawah sayang”
“oh, oke. Wait yaa”. gue tutup telfonnya dan berdiri di depan kaca. Mencari kekurangan dari penampilan gue. I’m not perfect. Just wanna better.
“Kita mau kemana?,” gue memakai helm KYT putih retro. Persis seperti yang Radit punya.
“Guess what?,” dia mengerlingkan mata.
Sepanjang jalan ini gue memandangi kiri jalan. Damai. Hangat. Rizkyan sahabat dekat Radit menemani gue dalam SMS nya.
Radit POV
“Tutup matamu!,” aku menutup matanya dengan kain panjang dan mengikatnya di belakang kepala Marta. Dia kutuntun sampai sebuah meja dan menyuruhnya duduk. Kutepukkan tanganku 3 kali. Rizkyan, Talita, Ananta, dan Dyta menyanyikan Happy Birthday. Gue mengambil kue blackforest yang udah gue beli di sebuah toko roti bersama Dyta. Gue suka minta pendapat tentang cewe ke Dyta. Ya, karna dia sahabat gue yang rumahnya paling deket. Jadi enak kalo mau ngobrol. K, back to the point.
Setelah make a wish dan meniup lilin ulang tahunnya, gue berdo’a semoga first cakenya buat gue. Tapi, tanpa berdo’a pun kayaknya Marta bakal ngasihnya ke gue. Dia potong cake nya dengan sumringah. Lega banget liat raut mukanya yang seperti ini. Senyumnya itu lebih berarti dari apapun buat gue. Gue bakal ngelakuin apapun untuk buat dia senyum. Sekalipun harus berkorban.
“heh! Elo ngelamun aja. Makan yuk!,” Talita menepuk pundak gue.
“Marta mana?”. Talita tidak menjawab namun telunjuknya mengarah pada sebuah gazebo di atas kolam ikan.
Marta, cewek yang gue sayang tertawa bersama Rizkyan. Sesekali tangannya mengusap krim kue yang ada di pipi Rizkyan. Tanpa basa basi, gue seret baju Old Navy milik Ryzkian sampai sedikit robek dan menghajar pipinya. Dia emang sahabat gue, tapi bukan kayak gini caranya.
“Stop, Radit! Stop sakitin Rizkyan! Dia pacar gue!,” teriak Marta.
“Yakinkan aku kalau yang kamu bicarakan itu tidak salah!,” jawabku sambil merenggangkan kepalan tanganku yang sedari tadi memukul Rizkyan.
“sorry, Radit. But it is true. I do not love you anymore as it used to. Tapi gue gak tega ngomongnya dari dulu. Sorry! Rasanya elo gak pantes deh dapetin gue, dan Rizkyan lebih bisa bikin gue bahagia. Lebih dan lebih dari yang elo punya.”
Dia. Dulu sahabatku, sekarang keparat.
Dia. Dulu saudaraku, sekarang bajingan.
Dia. Dulu hidupku, sekarang berkhianat.
Dia. Dulu semangatku, sekarang….. mungkin kau akan menjalani yang menurutmu baik. Yang hadir tanpa melihat pedihku ini. Kau hancurkan harapanku. Sekalipun kau bilang kau faham, tidak akan membuatku merasa lebih baik. Semoga saja tidak kau rasakan pahit sepertiku. Akan aku coba berjalan tanpa dirimu. Carilah kebahagiaanmu. Aku disini mendo’akanmu. Tiada niat menutup jalan bahagiamu.
Aku. Tidak pantas disandingkan denganmu.
Dengan segala keindahanmu.
Aku. Tidak pantas bahagia dengamu.
Dengan segala sempurnamu.
Suatu saat ketika kau terluka,
Terkikis rasamu dan sakit.
Bayangkan aku.
Aku seperti itu, sayang.
Jika kau coba menolehku, akan kuabaikan.
Aku hanya tak ingin terluka lagi.
Rasaku telah mati untuk menyadari semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar